21/10/15

Baik Dulu atau Pintar Dulu ?



Pertengahan Oktober ini, adalah masa di mana agenda sekolah yang rutin dilakukan adalah melakukan evaluasi tiga bulanan serta memberikan laporan hasil pembelajaran selama tiga bulan pertama di setiap tahun ajarannya. Sebagian sekolah, akhir pekan ini akan memberikan laporan hasil pembelajaran siswa kepada orang tua sebagai bagian dari bentuk tanggung jawab. sebagian sekolah lagi bahkan sudah melakukannya pekan lalu atau baru akan dilakukan pekan depan. 


Menarik untuk di lihat fokus orang tua dalam menerima dan menyikapi hasil belajar anak anak mereka setiap kali sekolah memberikan laporan hasil belajar atau yang umum di kenal dengan pembagian raport. Umumnya orang tua akan langsung tertuju pada deretan angka-angka yang tercantum dalam raport tersebut. Hal ini wajar karena memang raport sekolah sekolah di Indonesia masih berbasis angka. Selain masih berbasis pada angka, raport sekolah di Indonesia juga cenderung memberikan gambaran tentang capaian akademis atau kognitif yang lebih dominan. Hasilnya, orang tua atau masyarakat pada umumnya juga terbawa persepsinya bahwa prestasi belajar tergantung dari baik tidaknya capaian kognitif dari seorang siswa.

Kuatnya persepsi ini ( prestasi siswa dilihat dari capaian kognitif) adalah persepsi yang salah, apalagi jika pada tingkat pendidikan dasar. Secara tidak langsung membuat orang tua bahkan guru serta pihak sekolah melupakan capaian-capaian atau prestasi pada kemajuan sikap siswa. Sekolah, guru dan orang tua pada level pendidikan dasar seharusnya memiliki pandangan yang sama akan masa masa emas pembentukan karakter ada masa anak anak usia dini. Sehingga fokus pengembangannya harus di arahkan pada pembentukan sikap dan karakter agar anak-anak Indonesia yang menempuh pendidikan dasar menjadi anak anak yang baik dan sholeh dulu. Pada Jenjang pendidikan menengahlah pengembangan aspek kognitif mulai di fokuskan sehingga menjadi pelengkap dari pembentukan sikap yang sudah di lakukan di jenjang pendidikan dasar.

Kesalahan persepsi dan bahkan konsep pendidikan di Indonesia ini, dampaknya membuat manusia Indonesia produk dari sistem pendidikan nasional saat ini dan saat lampau memunculkan sosok-sosok cerdas dan luas pengetahuannya tapi minim akan rasa dan budaya. Akhirnya pemerintah sendiri yang kesulitan dalam membangun budaya hidup masyarakat Indonesia yang bermental pejuang, disiplin, tertib, taat aturan cinta kebersihan dan kuat mengamalkan iman dan kepercayan agamanya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat Indonesia sangat sulit untuk di arahkan agar memiliki budaya hidup yang baik. Seolah melanggar ketertiban di Indonesia adalah hal yang wajar dan lumrah misalnya. Budaya hidup yang tidak baik dari masyarakat Indonesia hanya bisa dilakukan hukuman atau sanksi atas penlanggaran yang dilakukan secara tegas. Masalahnya, penegak hukum di Indonesia juga merupakan produk dari sistem pendidikan yang lebih fokus pada capaian prestasi kognitif di bandingkan pembentukan sikap. Oleh karena itu, mata rantai keburukannya harus di putus saat ini juga dengan mengembalikan fokus pembentukan-pembentukan sikap dan karakter di unit-unit pendidikan tingkat usia dini dan dasar di seluruh Indonesia. Tentu dampaknya tidak instan dan dengan kesabaran dan konsistensi hasilnya bisa kita lihat dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang. Karena hakikat pembentukan karakter adalah konsisten dengan proses dan tidak terburu buru dengan hasil.

Akhirnya, praktisi pendidikan baik sekolah, guru bahkan orangtua siswa harus memiliki ketegasan dan keyakinan jika dihadapkan pada pertanyaan "Baik Dulu atau Pintar Dulu ?

Tidak ada komentar: