22/03/19

Kok, Masih Pakai Truk Tronton Sih ?





Pertanyaan semacam ini sering terlontar diantara orang tua murid saat kegiatan kemah siswa dilaksanakan.

Kemah Siswa (Kemsi) merupakan program sekolah tahunan yang di laksanakan oleh sekolah sebagai bagian penting dalam membentuk karakter siswa.

Salah satu karakter menonjol yang efektif di bentuk dengan prograam kemsi ini adalah kemandirian.

 Di SDIT Ibnu Sina duren sawit Kemsi di peruntukan bagi penggalang kelas 4 dan 5 dilaksanakan dalam 2 hari dan biasanya di luar kota, umumnya memang sekolah sekolah di Jakarta melaksanakan di daerah Bogor, selain Cibubur tentunya.


Pelaksanaan di luar kota itulah moda transportasi menjadi salah satu elemen penting dalam sukses Kemsi tiap tahun nya. Hampir setiap tahun, anak anak peserta Kemsi Ibnu Sina selalu pulang dan pergi ke lokasi menggunakan truk militer atau yang biasa kita kenal dengan truk tronton.

Kenapa ngga naik bis aja sih ?
Emang dana nya kurang ya ?

Gak kasian sama anak anak ?

itu sebagian rentetan pertanyaan lainnya yang sering hinggap di telinga guru/panitia...

Jadi gini...

Kemsi, seperti saya sebutkan tadi diawal adalah bagian penting dari program sekolah dalam pembentukan karakter siswa. Salah satu karakter yang signifikan pembentukannya melalui program Kemsi adalah Kemandirian, keberanian dan daya tahan.

Kemandirian, jelas menjadi menu utama. Saat kemah, anak anak akan merasakan pengalaman tidur jauh dari orang tua, jauh dari pengasuhnya di rumah dalam suasana yang kurang ideal baik dari tempat menginap karena biasanya mereka menginap di tenda.

Tidak ideal dari makanan, karena makanan yang di siapkan panitia ala kadarnya layaknya orang kemah atau makanan yang mereka masak sendiri.

Kemudian tidak ideal dari aspek kebersihan. Kotor menjadi teman baru bagi siapa saja yang beraktivitas di luar ruangan, tak terkecuali anak anak kota yang ikut kemah ini.

Respon dan sikap anak anak dalam menghadapi kondisi tidak idela inilah yang diharapkan menjadi pengalaman penting bagi mereka untuk mulai rasional menghadapi realitas hidup kelak nanti saat mereka dewasa.

Nah, pemilihan alat tranportasi yang tidak seideal bus adalah bagian dari pengkondisian dalam memberikan pengalaman kepada anak anak terhadap situasi yang tidak ideal tersebut.  Bagaimana anak anak merespon pengalaman perjalanan yang relatif jauh dalam kondisi bangku yang keras, ruangan yang panas tanpa AC tentu menjadi penilaian sendiri nantinya bagi bapak ibu guru dan kakak kakak pembina nya. Walau sejauh ini, anak anak malah fun dan senang karena dapet pengalaman dan sensasi baru naik truk. 

Tingkat progress kemandirian anak anak setelah pelaksanaan Kemsi ini memang berbeda beda, tergantung latar belakang anak anak saat di rumah atau lingkungan. Anak anak yang di rumah terbiasa di layani tentu butuh pengalaman dan proses yang lebih di banding anak anak yang di rumahnya sudah terbiasa mandiri. Tentu ini PR bersama orang tua dan guru.

PR berikutnya setelah kemandirian adalah daya tahan atau endurance. Daya tahan ini bukan pada kemampuan fisik semata, melainkan bagaimana anak anak tetap bisa berfikir rasional dan bertanggung jawab saat berada pada situasi tidak ideal, lelah, dsb.

Gambaran PR guru, pembina dan kaka pelatih yang masih banyak ini terlihat saat anak anak yang dengan mudah meninggalkan barang barang pribadinya saat sebelum kembali ke sekolah, bahkan beberapa dengan sengaja membuangnya. Kemudahan membeli barang barang yang di buang tersebut dan kebanyakan orang tua yang mahfum klo barang anak anak nya hilang membuat tanggung jawab anak anak menjadi kurang terbentuk.

Jadi, setiap pulang dan selesai Kemsi panitia bukan saja kebanjiran makanan limpahan peserta, tapi limpahan barang barang anak anak yang tidak di akui pemiliknya kadang masih terpajang hingga sebulan setelah pelaksanaan Kemsi. 

Penguatan terhadap bentuk tanggung jawab tersebut tentu butuh proses dan kerjasama yang sinergis antara orang tua dan guru di sekolah. 

Mudah mudahan kemandirian dan tanggung jawab terhadap tugas dan amanah nya anak anak  terus terbentuk ke arah yang semakin kuat dan baik. Amiin.


 

2 komentar:

Zhi Zha mengatakan...

Tulisan yang mengingatkan kita ke era masih SD, dari dulu sampai sekarang. moda trasnportasi truk troonton menjadi pilihan utama utk kegiatan KEMAH keluar kota. Selain menambah nilai kemandirian untuk siswa, juga menjadi kenangan yg seruuuu sepanjang perjalanan berangkat & pulang semua siswa.

trima kasih Ustadz Arsad, mengingatkan saya untuk coba belajar lagi menulis

arviantoni sadri mengatakan...

Sama sama